DATA JUMLAH PESERTA KB BARU MENURUT METODE KONTRASEPSI DESEMBER 2009
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Program keluarga berencana (KB) yang telah berjalan selama 40 tahun mampu mencegah terjadinya pertambahan penduduk sekitar 100 juta jiwa. Meski penduduk tetap bertambah sekitar 3,2-3,5 juta per tahun. Pada 2010, BKKBN mentargetkan terlayaninya peserta KB baru sekitar 7,1 juta peserta. Dari target itu, 3,7 juta di antaranya adalah keluarga prasejahtera, sejahtera I, dan keluarga miskin.
Diharapkan ada sekitar 254,5 ribu peserta KB pria. Sasaran lainnya adalah peserta KB aktif, yang diharapkan meningkat sekitar 26,7 juta. Jumlah itu terdiri atas 11,9 juta KB aktif dari keluarga miskin, dan 659,5 ribu peserta KB aktif pria.
BKKBN mengharapkan tahun ini terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan keluarga akseptor. Yakni mengenai pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak. Selain itu peningkatan kualitas keluarga lansia, serta pendapatan ekonomi keluarga melalui kelompok kegiatan usaha ekonomi produktif.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang dihadapi diIndonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana.
Diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa :
IUD 4.32% MOW 1.12% MOP 0.20% KONDOM 13.75% IMPLANT 10.54% SUNTIK 43.35% PIL 26.76%
Berdasarkan data dari BKKBN propinsi Jawa Tengah pada Pembinaan PUS dan Kesertaan Ber-KB, cakupan akseptor aktif KB paling banyak ada 83,46% di Kabupaten Semarang, sedangkan hasil cakupan Perolehan Peserta KB terbanyak 17,90% di Kota Magelang, hasil perolehan Peserta Baru berdasarkan Jenis Kelamin diperoleh 2,17% akseptor Pria, dan 8,74% akseptor wanita.
Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan akseptor KB misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan pil, suntik dan kondom. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk (Implant) dan kontap (Vasektomi dan Tubektomi). Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil, kondom maupun suntik.
Seiring nafas otonomi daerah, keberhasilan program keluarga berencana (KB) sangat tergantung dari komitmen pimpinan wilayah kabupaten/kota. Dukungan tersebut tidak saja untuk penggunaan alat kontrasepsi tetapi akan berdampak meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah kelahiran di Indonesia masih tinggi adalah belum semua pelayanan kesehatan primer dapat melayani KB dan kesehatan reproduksi (KR).
Saat ini, belum seluruh pemerintah daerah (kabupaten/kota) menetapkan KB sebagai program investasi yang strategis dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi daerah.
Bahkan kelembagaan KB yang dibentuk pemerintah daerah memiliki nomenklatur yang sangat beragam. Ada yang berupa badan, ada yang masuk dalam sebuah instansi tertentu, dan ada yang berbentuk kantor. Seharusnya pemerintah pusat dapat memberi arahan agar persoalan KB ditangani sebuah badan.
Selain itu, banyak petugas lapangan yang dialihtugaskan sehingga mekanisme operasional lini menjadi terhambat. Akibatnya, pelaksanaan Program KB jadi lemah. Maka perlu kita samakan visi dan misi KB terhadap mitra kerja.
Sebetulnya, masalah dana jangan selalu menjadi kendala, tetapi bagaimana sosialisasi program bisa sampai ke masyarakat, tentunya sangat diperlukan peranserta semua pihak termasuk memberdayakan masyarakat. Ini kan untuk memajukan masyarakat juga.
Saran
KB harus kita aktifkan kembali. Indonesia jangan sampai terjadi lagi ancaman ledakan penduduk. Jangan sampai, kita hanya menjadi obyek pangsa pasar bangsa atau negara lain karena penduduknya banyak. Kita harus jadi bangsa yang berkualitas. Wanita juga jangan hanya jadi obyek, tetapi menjadi obyek pembangunan, misalnya mereka bisa menjadi penyuluh masalah reproduksi dan kesehatan.
Meningkatnya jumlah penduduk berpotensi menimbulkan masalah baru dalam pembangunan nasional. Misalnya masalah kesejahteraan penduduk, persoalan lapangan kerja, pangan, dan kekumuhan kota.
Perencanaan kehamilan yang aman, sehat dan diinginkan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya menghindari kematian. Program tersebut sudah lama kita kenal dengan sebutan Keluarga Berencana (KB). KB juga memberikan keuntungan ekonomi pada pasangan suami istri (Pasutri), keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu setiap keluarga termasuk calon pengantin tidak ada salahnya mengenal KB.
Alasan penggunaan kontrasepsi bisa macam-macam, antara lain menunda kehamilan, menjarangkan jarak kehamilan, sampai menyetop kehamilan. Jangan sampai ada drop out alkon karena ketidaksesuaian alkon terhadap motivasi/alasan penggunaan, efek samping dan kontraindikasinya seperti di bawah ini :
Kontrasepsi Mekanik
Mencegah bertemunya sperma dengan sel telur dalam rahim. Sesuai namanya, kontrasepsi mekanik menggunakan alat yang melekat di tubuh. Berikut macam-macam alat kontrasepsi mekanik:
Kondom: Terbuat dari karet tipis elastis, serta berbentuk kantong. Fungsinya menampung sperma agar tidak masuk ke dalam vagina. Tapi tidak semua orang cocok dengan kondom, misalnya karena alergi karet. Banyak juga yang pakai kondom tapi tetap hamil karena kondom yang digunakan bocor, maklum bahannya sangat tipis.
Spiral: Istilah kedokteranya adalah IUD (Intra Uterin Device) atau alat kontrasepsi dalam rahim. Bentuknya kecil dan banyak macamnya. Alat ini dimasukkan ke dalam rahim oleh dokter dengan bantuan alat dan akan menimbulkan reaksi yang dapat mencegah bersarangnya sel telur yang telah dibuahi di dalam rahim. Bisa bertahan dalam rahim selama 2-5 tahun, tergantung jenisnya dan dapat dibuka sebelum waktunya jika seorang perempuan ingin hamil lagi. Setiap bulan, setelah haid selesai, kata dr. Febri, pemakai spiral harus mememeriksanya. Caranya dengan meraba benang yang ada pada alat kontrasepsi tersebut di mulut rahim. Jika benangnya masih teraba, berarti masih aman. Tapi kalau tidak, bisa saja lepas ke dalam rahim atau keluar karea terbawa darah haid.
Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi ini menggunakan hormon, dari progesteron sampai kombinasi estrogen dan progesteron. Fungsi hormon progesteron antara lain mengentalkan cairan di leher rahim sehingga sulit ditembus sperma, dan membuat lapisan dalam rahim menjadi tipis serta tidak layak untuk tumbuhnya hasil konsepsi. Selain itu dapat mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur, saluran telur jalannya jadi lambat sehingga mengganggu saat bertemunya sperma dan sel telur. Berikut macam-macam alat kontrasepsi jenis ini:
Pil: meningkatkan efektifitas, mengurangi efek samping, dan meminimalisir keluhan. “Berdasarkan penelitian, di Indonesia jenis kontrasepsi ini menduduki jumlah kedua terbanyak dipakai setelah suntikan,” beritahu dr. Febri. Ditambahkannya, Pil KB ada yang hanya mengandung hormon progesteron saja, ada juga kombinasi antara hormon progesteron dan estrogen. Diminum setiap hari secara teratur denga sistem 28 atau 22/21. Untuk sistem 28, pil diminum terus tanpa pernah berhenti (21 tablet pil kombinasi dan 7 tablet plasebo). Sedangkan sistem 22/21, minum pil setiap hari kemudian dihentikan selama 7-8 hari supaya menstruasi. Pada setiap pil terdapat perbandingan kekuatan estrogenik atau progesterogenik, melalui penilaian pola menstruasi. Perempuan yang menstruasi kurang dari 4 hari memerlukan pil KB dengan efek estrogen tinggi. Sedangkan perempuan dengan haid lebih dari 6 hari memerlukan pil dengan efek estrogen rendah. Keuntungannya, pil ini dapat meningkatkan libido, haid menjadi teratur, mengurangi nyeri haid, dan mengatur keluarnya darah haid. Kerugian penggunaan pil secara teratur dalam waktu panjang dapat menekan fungsi ovarium, berat badan bertambah, juga rasa mual sampai muntah, pusing, ada bercak di kulit wajah seperti vlek hitam, dan bisa saja lupa minum.
Suntik: Kontrasepsi suntikan mengandung hormon sintetik. Penyuntikan dilakukan 2-3 kali dalam sebulan, ada juga yang setiap 3 bulan, setiap 10 minggu, dan setiap bulan. Salah satu keuntungan suntikan adalah tidak mengganggu produksi ASI. Pemakaian hormon ini juga bisa mengurangi rasa nyeri dan darah haid yang keluar. Jika tidak dikontrol dapat menyebabkan obesitas karena nafsu makan meningkat. Lapisan lendir rahim juga menjadi tipis sehingga haid sedikit atau tidak haid sama sekali.
Implant: Disebut alat kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan kiri atas. Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga dan ukurannya sebesar batang korek api. Susuk dipasang seperti kipas dengan enam buah kapsul. Di dalamnya berisi zat aktif berupa hormon. Susuk tersebut akan mengeluarkan hormon sedikit demi sedikit. Jadi, konsep kerjanya menghalangi terjadinya ovulasi dan menghalangi migrasi sperma. Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun, 3 tahun, dan ada juga yang diganti setiap tahun. Penggunaan kontrasepsi ini biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang ingin hamil lagi.
Kontrasepsi Permanen
Kontrasepsi ini (MOW/MOP) biasanya dipilih dengan alasan jumlah anak yang dimiliki sudah cukup. Caranya, suami-istri dioperasi (vasektomi untuk lelaki dan tubektomi untuk perempuan). Tindakan dilakukan pada saluran bibit pada lelaki dan saluran telur pada perempuan, sehingga pasangan tersebut tidak akan mendapat keturunan lagi.
Data 2011 juga …
dapet sumber dari mana????
dari bkkbn.go.id tapi itu juga tahun 2010 an